Tuesday, April 19, 2011

PERKEMBANGAN KERIS PUSAKA DI BALI


Sejarah perkembangan Keris di Bali tidak terlepas dari kisah perjalanan kerajaan-kerajaan di Bali memulai masa keemasannya di bawah hagemoni raja suami istri Dharmodhayana Warmadewa & Sri Guna Priya Dharma Padhmi (Mahendradatta), atau lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Sri Aji Masula Masuli,

Dikisahkan ,Beliau (Dharmodhayana Warmadewa) masih keturunan dari Sri Kesari Warmadewa (peletak pertama dinasti Warmadewa di Bali), sedangkan Sang Ratu merupakan cucu dari Mpu Sindok (Raja yang memerintah di Jawa Timur), dalam peradaban kerajaan ini tidak terdapat bukti riil yang mencatat tentang literatur kebudayaan suatu pusaka(keris), ini disebabkan kurangnya informasi yang ada (peninggalan - peninggalan tertulis yang berupa lontar maupun prasasti, sehingga pada jaman ini tidak diketahui secara pasti keberadaan suatu pusaka dalam kehidupan kerajaan maupun masyarakat pada waktu itu,

Seiring bergulirnya waktu eksistensi kekuasaan dinasti warmadewa kian meredup, ditandai dengan runtuhnya kerajaan “Bedahulu” (yang merupakan turunan langsung dari dinasti warmadewa yang berkuasa di Bali) akibat penyerangan yang dilakukan kerajaan Majapahit, dimana pertempuran dipimpin langsung oleh Maha Patih Gadjah Madha, karena kekosongan kekuasaan atas runtuhnya kerajaan Bedahulu, Gadjah Madha mengangkat seorang raja baru yang berasal dari padepokan Brahmana di kediri, yaitu Sri Kresna Kepakisan dengan pusat kekuasaannya berada di daerah Samprangan.

Dinasti yang baru inilah yang hingga saat ini masih menunjukkan eksistensinya sebagai raja tertinggi (sesuhunan) di Bali, dalam menjalankan roda pemerintahannya di pulau yang baru saja terkuasai, Raja Kresna Kepakisan mendapatkan anugerah dari raja Majapahit, berupa sebuah Keris pusaka bernama Si Ganja Dungkul, dengan harapan dapat mempertegas legitimasi & kewibawaan Sang Raja.

Setelah wafatnya Sri Kresna Kepakisan, kekuasaan beralih pada putra tertuanya yang bergelar Dalem Samprangan, kmudian digantikan oleh adiknya, Dewa Ketut Ngulesir memimpin kerajaan di Bali, yang bergelar Dalem Ketut Ngulesir, untuk menghindari pergolakan politik antar sesama saudara raja, Dalem Ketut Ngulesir memindahkan puasat kekuasaanya ke daerah gel - gel (klungkung), lama - kelamaan akhirnya Dalem Samprangan dapat menerima hal tsb, dan mengakui kedaulatan kekuasaan adiknya.

Pada persidangan umum seluruh raja nusantara di bawah legitimasi kerajaan Majapahit, semua raja - raja bawahan memberikan upeti kepada raja utama sebagai tumbal setia kepada Maha Raja Majapahit. Sebagi tanda takluk sepenuhnya kepada raja Majapahit, Sang Raja memberikan pakaian kebesaran kerajaan kepada raja bawahan, dan terkadang disertai pula dengan sebilah keris pusaka.

Pada Raja Bali Misalnya, diberikan sebilah Keris pusaka bertatahkan gambar seekor naga (Naga Pasa), dengan pesan bahwa keris ini mempersatukan pikiran Raja Majapahit & Raja Bali. Dalem Ketut Ngulesir digantikan putra tertuanya yaitu Dalem Waturenggong, pada jaman kekuasaan raja ini Kerajaan Bali Sudah Menyatakan merdeka & berdiri sendiri, lepas dari naungan kerajaan Majapahit, karena mulai melemahnya kekuatan militer serta teritorial kerajaan Majapahit saat itu.

Dewa Agung Jambe adalah Raja Terakhir Dinasti Kresna Kepakisan yang masih berstatus merdeka dan berdiri sendiri, simbol kebesaran Raja Dewa Agung Jambe berupa pusaka - pusaka warisan kerajaan Samprangan & Gel - gel seperti, keris bernama Durga Dingkul, I lobar, dan Tombak bernama I Baru Ngit serta I Baru Gudug bekas pemberian Patih Gadjah Madha pada saat menguasai pulau Bali, serta keris - keris lainnya, yaitu : Raksasa Bedak, Masayu, Karandan, Arda Ulika, Pencok Saang, Langlang Dewa, Baan Kau, & Baru Caak. Tetapi sampai saat ini keberadaan keris - keris pusaka tersebut masih terselubung, bahkan pihak keraton klungkung pun masih menyangsikan keberadaan pusaka - pusaka tersebut.

No comments:

Post a Comment